Sumber Gambar : (https://www.facebook.com/jangan.dekati.riba/posts/laranganriba-sudah-mutlak-dan-kerasnya-larangan-tersebut-terdapat-di-al-qurandan/156718171036877/)
Dari Abu Hurairah Radhiyallahuanhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Beliau bersabda, “Jauhilah tujuh (dosa) yang membinasakan!” Mereka (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasûlullâh! Apakah itu?” Beliau menjawab, “Syirik kepada Allâh, sihir, membunuh jiwa yang Allâh haramkan kecuali dengan haq, memakan riba, memakan harta anak yatim, berpaling dari perang yang berkecamuk, menuduh zina terhadap wanita-wanita merdeka yang menjaga kehormatan, yang beriman, dan yang bersih dari zina”. [HR. al-Bukhâri, no. 3456; Muslim, no. 2669]
Kita dengan jelas menjauhi syirik, mengutuk miras dan narkoba, juga menjauhi daging babi, tapi dengan santai melakukan hal-hal berbau RIBA yang dianggap biasa dan seakan tutup mata juga telinga. Padahal makan Riba jauh lebih mengerikan dibanding makan babi yang hanya sekali dosanya saat itu saja. Tetapi riba ? dosa yang berkelanjutan dan yang paling ringan adalah sama dengan berzina dengan Ibu Kandung ! Bejat ! Ya Sangat !
1. Kita dengan santai selalu berinteraksi dengan Bank Ribawi, dapat bunga (riba) pula. Kenapa bunga haram ? akad dengan Bank Konven adalah Utang-Piutang. Kita memberi utang bank, dan kita memperoleh manfaat berupa bunga. Simak Fatwa MUI Nomor 1 Tahun 2004 Tentang BUNGA (INTEREST/FA’IDAH)
Praktek pembungaan uang saat ini telah memenuhi kriteria riba yang terjadi pada jaman Rasulullah SAW, Ya ini Riba Nasi’ah. Dengan demikian, praktek pembungaan uang ini termasuk salah satu bentuk Riba, dan Riba Haram Hukumnya.
2. Dengan bangga bisa kredit leasing kendaraan bermotor
3. Dengan busung dada bisa kpr dan taat bayar Ribanya juga !
4. Dengan ceria memperoleh pinjaman usaha dari Bank.
5. Dengan senang punya asuransi dimana-mana
Menyeramkan kah dosa Riba ?
1. Laknat Bagi Pelaku Riba.
Dari Jabir Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba, pemberi makan riba, penulisnya dan dua saksinya”, dan Beliau n bersabda, “Mereka itu sama.” [HR. Muslim, no. 4177]
2. Perang Dari Allâh Azza Wa Jalla Dan RasulNya
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allâh dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah bahwa Allâh dan Rasulnya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari
pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. [Al-Baqarah/2: 278-279]
3. Bangkit Dari Kubur Dirasuki Setan.
“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila”. (al-Baqarah/2:275)
4. Akan Berenang Di Sungai Darah.
Dari Samurah bin Jundub, dia berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tadi malam aku bermimpi ada dua laki-laki yang mendatangiku, keduanya membawaku ke kota yang disucikan. Kami berangkat sehingga kami mendatangi sungai darah. Di dalam sungai itu ada seorang laki-laki yang berdiri. Dan di pinggir sungai ada seorang laki-laki yang di depannya
terdapat batu-batu. Laki-laki yang di sungai itu mendekat, jika dia
hendak keluar, laki-laki yang di pinggir sungai itu melemparkan batu ke dalam mulutnya sehingga dia kembali ke tempat semula. Setiap kali laki-laki yang di sungai itu datang hendak keluar, laki-laki yang di pinggir sungai itu melemparkan batu ke dalam mulutnya sehingga dia kembali ke tempat semula. Aku bertanya, “Apa ini?” Dia menjawab, “Orang yang engkau lihat di dalam sungai itu adalah pemakan riba’”
5. Nekat Melakukan Riba Padahal Sudah Sampai Lrangan, Diancam Dengan Neraka. Orang-orangyang telah sampai kepadanya larangan dari Rabbnya, lalu terus berhenti
(dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allâh. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni
neraka; mereka kekal di dalamnya. [al-Baqarah/2:275]
Wallahu a'lam bish-shawabi
Komentar
Posting Komentar