DIGITALISASI UMKM DITENGAH PANDEMI

 


Pandemi Covid-19 belum juga berakhir, banyak permasalahan dalam negeri yang belum terselesaikan dan masih berstatus “siaga”, salah satu dari sekian banyak masalah adalah “pudarnya pesona UMKM di masa pandemi”. Bagaimana tidak ? banyak UMKM yang omsetnya menurun drastis selama pandemi, Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh LIPI di tahun 2020, hampir 95% UMKM merasakan turunnya penjualan mereka. Studi ini dilakukan atas 676 responden pebisnis UMKM di 24 Provinsi di Indonesia. Lantas apa yang bisa dilakukan oleh UMKM ditengah perekonomian yang belum stabil ? Di era digital seperti ini, harusnya UMKM lebih “lihai” memanfaatkan internet untuk berbisnis.

Pemerintah yang diwakili oleh Kementerian Keuangan, banyak memberikan pelatihan yang sifatnya mendorong UMKM untuk lebih digital. Dwi Apriyani yang merupakan Kepala Subdit Kredit Program dan Investasi Lainnya menyatakan bahwa, UMKM yang sudah “melek” digital cenderung lebih bisa bertahan ditegah krisis ekonomi seperti saat ini. Jaman sudah tidak relevan lagi jika UMKM tidak didampingi oleh internet dalam keseharian operasionalnya, media sosial banyak macamnya, marketplace menjamur dimana-mana, ditambah konsumen pun sudah lebih digital dan ingin beberlanja dengan “rasa aman” disaat pandemi seperti ini.

Ada sinyal yang sangat kuat mengapa UMKM sudah harus lebih “melek” digital, sinyal itu datang dari Gojek dan Tokopedia yang saat ini resmi bernama GoTo. Lahirnya GoTo akan mendorong digitalisasi perekonomian Indonesia. GoTo diklaim sebagai salah bentuk kombinasi bisnis terbesar sepanjang sejarah di Indonesia, dengan melibatkan hampir 13 juta mitra driver ojek dan merchant UMKM, juga langsung melesat ke posisi 11 dunia dalam hal valuasi perusahaan startup, angkanya yakni US$ 17 miliar (242,2 Trilyun) (CBInsights, 2021). “Kapal Titanic” yang bernama GoTo sudah siap berlayar ditengah “samudera” Indonesia bahkan mungkin Asia dan Dunia, maka dari itu “para sekoci” yang dalam hal ini adalah UMKM, sudah selayaknya mengikuti arah tujuan GoTo untuk “menggerek” perekonomian nasional yang tengah lesu.

Pebisnis UMKM sebenarnya sudah cukup melek digital, banyak UMKM di daerah Jabodetabek khususnya, sudah memakai laptop dengan internet (42,7%) dan smartphone dengan internet (84%) (Katadata, 2020) untuk berbisnis. Ini indikasi bahwa kesiapan digital UMKM sebenarnya sudah cukup baik, tinggal bagaimana membuat internet benar-benar bisa menjadi asisten pribadi UMKM. Cukup banyak aplikasi “gratisan” atau situs yang bisa dimanfaatkan untuk mempercepat proses bisnis. Tidak hanya aspek pemasaran saja yang bisa didigitalisasikan, proses bisnis lainnya pun ternyata bisa memanfaatkan peran internet.  

1. Pembelian : Mengotomatisasi Prosedur Pembelian dengan Google Drive   

Aktivitas pembelian bahan baku merupakan proses bisnis dimana pebisnis akan berhubungan dengan pemasok sebagai pihak eksternal. Pebisnis bisa memanfaatkan aplikasi Gdrive atau aplikasi sharing project lainnya untuk memperbaharui status persediaannya, dimana para pemasok diberikan hak akses atas Gdrive tersebut dan membiarkan pemasok melihat status persediaan. Diharapkan secara otomatis para pemasok mitra UMKM dapat menawarkan barang dan mengirimkannya sesuai kuantitas, kualitas dan tepat waktu. 

2. Produksi : Memproduksi Bahan Baku dengan Metode Forecasting (Peramalan)

Pebisnis bisa membaca pola pesanan berdasarkan history-nya, maka dari itu riwayat pesanan harus disimpan di database (Bisa Ms. Office atau aplikasi lainnya), jangan dihapus. Contohnya adalah menyimpan database pelanggan tetap, mengidentifikasi produk paling laris tiap minggu, atau membaca karakter pemesanan berdasarkan jam/waktu pemesanan. Pola forecasting atau prediksi pesanan juga bisa dilakukan, misalnya pebisnis kue kering yang memproduksi kue dengan jumlah yang cukup banyak saat menjelang lebaran. Fitur Google form juga bisa digunakan untuk survey kepuasan pelanggan dan harapan pelanggan kedepannya, sehingga bisa dijadikan dasar keputusan produksi. 

3. Penjualan : Membuat E-Katalog Produk dan Memanfaatkan Google Trends

Banyak platform marketplace dan media sosial yang dijadikan tempat untuk memasarkan produk, pebisnis dengan premium member bisa memanfaatkan data-data statistik yang diberikan oleh marketplace/medsos tempat mereka berjualan, seperti data penjualan, data konsumen dan data lainnya. Pebisnis juga bisa memanfaatkan blog untuk memasang produk mereka di internet, selain blog dengan domain gratis, saat ini sudah banyak aplikasi-aplikasi gratis lainnya yang menawarkan jasa e-catalogue. E-catalogue akan sangat berguna bagi pelanggan untuk melihat-lihat produk tanpa adanya aktivitas percakapan atau foto produk yang "kelelep" seperti di WA atau IG. Jangan lupa juga memanfaatkan Google Trends, untuk melihat apa saja yang sedang viral dan happening, sehingga pebisnis bisa menjual produknya dengan memanfaatkan search engine optimization. 

4. Pembayaran : Memanfaatkan E-mail/WA/Telegram untuk Mengirim Tagihan

Cukup banyak pebisnis UMKM yang kurang peduli terhadap dokumen-dokumen transaksi, padahal dengan adanya dokumen seperti invoice misalnya, pebisnis bisa mengidentifikasi berapa banyak penjualan yang telah dilakukan. Elektronik invoice akan lebih poweful di era digital, selain bisa secara praktis dibuat melalui Ms.Office, invoice tersebut akan otomatis tersimpan di cloud/internet sehingga kecil risikonya untuk kehilangan data. Pebisnis bisa menggunakan e-mail, whatsapp atau telegram untuk saling berkirim data dengan konsumen. Metode pembayaran juga bisa memanfaatkan e-money atau aplikasi transfer tanpa biaya admin, sehingga pebisnis dan konsumen bisa memanfaatkan fitur-fitur diskon yang kadang diberikan penyedia jasa/layanan tersebut.

5. Pelaporan : Micosoft Excel adalah Aplikasi yang Cukup Mumpuni dalam Membuat Laporan Bisnis 

Bagi sebagian besar pelaku UMKM, membuat laporan bisnis apalagi laporan keuangan adalah hal yang rumit dan ribet, oleh karenanya banyak pebisnis yang tidak mempunyai laporan keuangan. Tapi paling tidak laporan penjualan, laporan database konsumen dan pemasok, riwayat pemesanan konsumen, laporan persediaan perlu dibuat. Akan lebih baik jika UMKM mampu membuat laporan keuangan seperti laporan laba rugi, neraca atau arus kas. Semua laporan tersebut bisa dibuat oleh aplikasi Ms.Excel atau aplikasi software akuntansi lainnya. Lebih jauh lagi, pelaku UMKM yang mampu membuat laporan keuangan dan bisnis akan lebih mudah memperoleh akses pendanaan dari pihak luar.

Proses bisnis diatas memberikan gambaran bahwa, ada banyak teknologi yang bisa dimanfaatkan untuk dapat berbisnis dengan cepat dan aman tanpa harus melibatkan pergerakan fisik yang signifikan. 

Pada akhirnya UMKM yang mampu bertahan ditengah pandemi dan krisis ekonomi seperti ini adalah UMKM yang "tangguh", UMKM tersebut mampu memanfaatkan dan mengelola bisnisnya secara digital, disaat pergerakan manusia masih terbatas. Sehingga pandemi Covid-19 ini adalah ujian bagi para penggiat UMKM untuk dapat terus survive, karam atau bahkan loncat lebih tinggi lagi. 

Source : Artikel Dipublikasikan di Koran SINDO, Kamis 1 Juli 2021

Komentar